Dan mengapa semuanya harus tunduk di bawah kaki kaki kecil milik seseorang yang bahkan tak jelas diketahui jumlah anggota tubuhnya. Dia tidak cacat fisik. Tubuhnya sempurna. Pujaan pria. Kaki-kaki kecil yang nampaknya menjadi dambaan teman tidur para bajingan bertitit. Sekali lagi, dia tidak cacat fisik. Hanya saja, perasaannya telah sepenuhnya hilang. Dia menderita cacat kepekaan. Tak jelas berapa anggota perasa yang tersisa dalam tubuhnya. Dalam otak, pikiran, dan hatinya. Anjing-anjing kecil lainnya kaing-kaing menelan semua muntahan dari si pemilik kaki-kaki kecil. Hey, bahkan anjing pun rela saja menjadi budak dari si pemilik kaki-kaki kecil. Mereka sama-sama kecil. Tetapi anjing-anjing itu kaing-kaing saja saat si pemilik kaki-kaki kecil memuntahkan lagi makanannya yang lain. Mereka terima. Mereka bangga. Mereka merasa tidak pernah mengeluarkan bunyi kaing-kaing setelah dipakani oleh si empunya kaki-kaki kecil. Mereka merasa mengeluarkan auman layaknya singa. Besar dan ditakuti gara-gara sukses makan makanan sisa dari si kaki kaki kecil. Oh, betapa bahagianya. Anjing ya tetap anjing. Anjing itu hewan. Hewan itu bebas. Tidak satu spesies dengan si kaki kaki kecil. Lalu mengapa harus tunduk juga? Memang sudah mati indera perasa si kaki kaki kecil. Kasihan memang. Kasihan. Kaki-kaki kecil itu mencuri perhatian banyak orang. Kaki kaki kecil sempurna. Layak jadi panutan. Kaki kaki kecil yang telah ranum dan dewasa. Walaupun kecil, tetapi berjuta jalan yang telah dilewati dengan kaki kaki kecil itu. Wah, makin besar kepala saja si kaki kaki kecil ini. Makin kasihan. Makin kasihan. Kaki kaki kecil mulai terlena dengan segala perhatian yang diberikan banyak makhluk padanya. Dari bajingan bertitit, dari wanita dengan rambut yang berulang kali disibakkan, para filsuf yang jarang menyentuh perabotan milik perempuan, kacung dengan kepala tertunduk, bahkan anjing anjing yang juga kecil. Kaki kaki kecil yang
malang
. Sadarkah ia bahwa ia tak lebih dari pemilik sepasang kaki kaki kecil yang hanya menawan. Dangkal. Dia pikir dia sempurna. Oh, kaki kaki kecil, andai saja dia mau melongok sebentar pada kenyataan. Bisa saja semua totem yang dibuat untuk memujanya, hanya berupa imitasi saja. Sadarkah ia bahwa dalam sekejap saja semua cerita yang dia punya yang dia pakai untuk membuat makhluk makhluk menyembah, mencium kakinya, bisa saja menguap ke udara, menjadi hambar dan membosankan.
Sementara itu, segelintir orang mencoba menahan diri dari invasi dari kaki kaki kecil. Secuil harapan diselipkan agar menahan kaki kaki kecil tetap di tanah. Tidak membumbung ke angkasa dan menancapkan pasak-pasak kekuasaannya di atas kepala tiap makhluk. Kaki kaki kecil yang sedang merasa bahagia mendapat sanjungan karena kerjanya yang menawan harus dibuat sadar kembali. Segelintir orang itu berpikir keras. Memutar otak. Mengapa sih? Mengapa segelintir orang itu begitu ingin menarik kaki kaki kecil kembali ke bumi? Oh, nampaknya mereka merasa terganggu dengan segala serpak terjang kaki kaki kecil. Kaki kaki kecil masih saja kecil. Tapi, lingkaran kekuasaannya makin menggila. Orang-orang (yang anggap saja) buangan ini merasa lelah dengan gerakan gerakan besar kaki kaki kecil. Buangan-buangan ini mencoba melangkah sendiri, menapaki jalan yang tidak diambil oleh si kaki kaki kecil. Mereka bosan mengikuti pola yang dibuat kaki kaki kecil. Ah, jalan yang sama dengan yang telah diambil kaki kaki kecil sebelumnya. Buat apa diambil lagi? Hey tunggu, ternyata banyak makhluk yang mengganggu jalan mereka.
Ada
domba bertutur seperti serigala dan berpikir seperti singa.
Ada
siput yang berlari secepat cheetah dan bertopeng kupu kupu. Ah, bukti bukti yang menguatkan betapa kaki kaki kecil disegani, dicintai, DIHORMATI. (Ah, tai kucing dengan penghormatan!!) Nampaknya segelintir orang yang sedang mencoba untuk tidak terbutakan oleh kaki kaki kecil tak banyak bisa bergerak. Depan belakang kanan kiri sudah terkepung. Siap diterkam. Lihat saja, mereka sedang dicabik-cabik. Dicobai rasanya. Dites reaksinya. Semua orang telah tunduk di bawah kaki kaki kecil yang sempurna. Oh, malangnya mereka. Atau justru kaki kaki kecil yang sebenarnya
malang
nasibnya? Hmm. We’ll see…